“Damai di hatiku”

Bait 1: Esuno Kokoro uchini (hati Yesus ada di hatiku)

Bait 2: Esuno Heiwa uchini (Saya punya damai Kristus dalam hatiku)

 

Mitsuru Ishido menulis lagu ini untuk memotivasi Nasu Keiku, anggota gereja Mennonite yang menjahit masker untuk diberikan ke pengungsi, mahasiswa dari luar negeri dan jemaat gereja yang menderita penyakit paru-paru. Ia menggunakan nada pentatonik Okinawa dan memainkan lagunya dengan sanshin, gitar tradisional Jepang bersenar tiga yang digunakan di pulau Okinawa di Jepang.

Okinawa memiliki sejarah perang dan damai. Dahulu, Okinawa adalah bagian dari kerajaan Ryukyu, dan saat itu memiliki reputasi sebagai pulau yang damai, pulau tanpa senjata. Selama 300 tahun, Ryukyu adalah kerjaan berdaulat yang berdiplomasi melalui musik dan tarian, bukan pedang.

Yesus sebagai “raja damai” dan “sumber damai sejahtera” memiliki kesamaan dengan sejarah pulau Ryukyu, karenanya saya menggunakan nada tradisional Ryukyu. Saya memainkan lagu ini menggunakan sanshin, alat musik tradisional Okinawa yang menggunakan tiga senar dan drum kulit ular.

Mitsuru Ishido dengan sanshin, gitar tradisional
di Okinawa, Jepang.

Di zaman modern, kerajaan Ryukyu digabungkan dengan Shimadzu Han di Jepang. Sebelum Perang Dunia II, infrastruktur militer pun dibangun. Hari ini, Okinawa masih menjadi basis militer “Keystone of of Pacific”, berlawanan dengan tradisi damai di pulau itu.

Selama Perang Dunia II, pertarungan tersengit di Jepang pecah di Okinawa. Untuk melindungi markas besar di Tokyo, banyak warga sipil dan prajurit terbunuh di pertempuran yang berkepanjangan ini. Mereka bersembunyi di gua-gua batu gamping yang dinamai Gama, namun pada akhirnya warga sipil terpaksa memilih mati daripada tertangkap musuh dan membocorkan informasi.

Akibatnya, turun perintah “bunuh diri wajib”. Di antaranya, seorang pria akan membunuh ibu dan anaknya lalu bunuh diri. Tragedi ini menyebabkan trauma yang berkelanjutan.

Setelah perang usai dan Jepang kalah, penduduk ditahan di kamp konsentrasi. Kelaparan meluas karena tentara Amerika Serikat menjarah rumah dan lahan pertanian.

Namun, sesulit apapun kehidupan di kamp konsentrasi, warga Okinawa kembali pada tradisi damainya melalui musik. Mereka bertahan dengan membuat alat musik dari kaleng-kaleng yang dipungut dari tempat sampah, yang dinamai Sanshin Tong Sampah.

Musik dan pola pikir damai di Okinawa tidak pernah mati. Walaupun terindas berkali-kali, gaya hidup yang didasarkan pada musik dan perdamaian membuat musik Okinawa tetap hidup sampai hari ini.

—Mitsuru Ishido adalah anggota Dewan Umum MWC mewakili Tokyo Chiku Menonaito Kyokai Rengo di Jepang. 

 

Video lagunya ada di https://mwc-cmm.org/peace-sunday

 

You may also be interested in:

Peace Sunday

These Peace Sunday worship resources are provided by the Peace Commission of Mennonite World Conference. We encourage their use by all MWC-related... Read More

Comments: