GKMI Lamper Mijen mengembangkan pelayanan yang kontekstual

Ibadah Minggu di GKMI Lamper Mijen. Foto GKMI

Kesaksian Renewal 2027: Anabaptis masa ini

Renewal 2027 adalah rangkaian acara sepuluh tahunan yang diadakan oleh Faith and Life Commission, Mennonite World Conference untuk memperingati hari ulang tahun ke-500 dari gerakan Anabaptis. Rangkaian ini menyoroti para pemimpin dalam kegerakan di masa lampau hingga sekarang.

Lawrence Yoder dalam buku “Tunas Yang Tumbuh 1” menulis bahwa  faktor-faktor yang ikut menyebabkan pertumbuhan pesat itu adalah bahwa dalam gerakan penginjilan Kudus, banyak orang ikut mengambil bagian. Misionaris FAST dalam laporan tahunan untuk tahun 1922 melaporkan bahwa semua orang di kelompok Kristen Kudus ikut bekerja sama dalam memberitakan Injil. Mereka bertemu, membicarakan Firman Allah serta memuji Tuhan dengan nyanyian dan doa. “Jemaat ini sungguh mengingatkan kita akan jemaat Yerusalem.”

Lebih lanjut dia melaporkan kejadian di Mayong, “Untuk kepentingan pertemuan jemaat, pedagang-pedagang menutup toko mereka. Mereka memulai dengan persekutuan doa. Bukan hanya sang ayah yang berdoa melainkan si ibu serta anak-anak. Saya heran akan apa yang saya lihat dan dengar. Dalam doa-doa yang dinaikkan, mereka mengucapkan syukur kepada Allah yang telah mengalihkan mereka dari berhala-berhala yang terbuat dari batu dan kayu kepada Allah yang hidup.”

Penginjilan yang dilakukan oleh mereka bukanlah sesuatu yang dilakukan pada hari dan waktu tertentu saja, melainkan terjadi tiap hari dan dalam berbagai macam hubungan. Misalnya pada tahun 1922 orang-orang Tionghoa Kristen di Tanjung berbincang-bincang tentang iman mereka kepada orang-orang Jawa yang datang ke kota mereka. Akibatnya ada sekelompok orang Jawa dari Karangrowo yang datang minta dibaptis. Hal ini membuktikan bahwa jemaat baru di Kudus dengan cabang-cabang di Mayong dan Tanjung sungguh merupakan jemaat yang hidup dan giat, bahkan melampaui batas kesukuan.

Umat berjalan ke gereja di tahun 70-an. Foto: GKMI

Dari tulisan Yoder tersebut, kita bisa menyimpulkan bahwa jemaat di Kudus punya semangat yang tinggi untuk mengabarkan Injil dan mereka sudah melampaui izin dari Pemerintah Belanda. Sesungguhnya izin dari Pemerintah Belanda, pelayanan jemaat di Kudus hanya untuk kalangan orang Tionghoa saja, tapi ternyata pelayanan mereka menjangkau suku Jawa juga.

Menyeberang Ke Semarang

Dalam perkembangan selanjutnya, jemaat yang semula hanya berada di sekitar Gunung Muria (Kudus, Jepara, Pati, dan sekitarnya) pada tahun 1958 mulai menyeberang ke Semarang, ibukota Jawa Tengah, jaraknya sekitar 50 kilometer dari Kudus.

Jemaat di Semarang yang dimulai dengan persekutuan di rumah Sie Tiang Djwan, jalan Beringin II/11 Semarang pada tanggal 23 Februari 1958, pada tahun 1960 dinyatakan oleh Sinode GKMI sebagai jemaat yang dewasa. Dengan demikian pada tahun 1960 sudah hadir GKMI di kota Semarang. Saat itu GKMI Semarang belum mempunyai tempat ibadah sendiri, masih meminjam gedung Gereja Prostestan di Indonesia bagian Barat (GPIB) Immanuel atau yang lebih dikenal dengan nama Gereja Blenduk, Semarang.

Sejak semula jemaat GKMI Semarang mempunyai semangat yang tinggi dalam memberitakan Injil dan menanam gereja yang baru. Sampai saat ini mereka sudah mendewasakan 8 gereja cabangnya. 

Ibadah minggu di bangunan gereja lama GKMI Lamper Mijen. Foto: GKMIPada tahun 1967, Pdt. Samuel Setianto (Gembala Jemaat GKMI Semarang) didukung oleh beberapa kaum muda, antara lain: Yesaya Abdi, Agus Suwantoro, Rina, Giok Hwie, Esther Djajadihardja, dan Han Fie. Mereka mengadakan penginjilan di daerah Jeruk dan Lamper Mijen. Mereka mengabarkan Injil secara pribadi, dari rumah ke rumah dan juga melalui kebaktian kebangunan rohani. Yang menarik, hampir semua anggota Tim Penginjilan di daerah Jeruk dan Lamper Mijen, berasal dari suku Tionghoa, sedangkan orang-orang yang mereka injili sebagian besar dari suku Jawa.

Semula mereka mengadakan persekutuan di rumah jemaat. Sempat beberapa kali persekutuan pindah ke beberapa rumah. Beberapa jemaat yang rumahnya pernah dipakai untuk persekutuan dalam rangka perintisan antar lain: Jaelani, Kusnan, Sukiran, dan Robin Mukiyi.

Proses Menjadi Gereja Dewasa

Pada tahun 1972 jemaat berhasil membeli sebidang tanah di Lamper Mijen. Seiring dengan itu, GKMI Semarang juga mengutus Andreas Parwadi menjadi tenaga penuh waktu yang menggembalakan Pos PI GKMI Jeruk. Pada tahun 1974 Pos PI GKMI Jeruk  mulai melaksanakan pembangunan tempat ibadah di tanah yang sudah mereka beli di Lamper Mijen. Syukur kepada Tuhan, pada tanggal 19 Mei 1977 Andreas Parwadi ditahbiskan sebagai Guru Injil dan diteguhkan sebagai Gembala Jemaat GKMI Semarang Cabang Lamper Mijen. Bersamaan dengan itu jemaat secara resmi menempati gedung gereja mereka yang baru.

Jemaat ini terus bertumbuh dan berkembang, sehingga pada tanggal 1 April 1981 GKMI Semarang Cabang Lamper Mijen didewasakan menjadi GKMI Lamper Mijen dan GI Andreas Parwadi ditahbiskan sebagai Pendeta. Ada pun susunan Majelis Jemaat GKMI Lamper Mijen perdana sebagai berikut: Lemuel Muhadi (Ketua), Brotodiharjo (Sekretaris I), Nurwiyono (Sekretaris II), dan Timotius Marimin (Bendahara)

Pendeta Budi Santoso dan istrinya memakai baju tradisional, beskap dan kebaya. Foto: GKMI.Menghadirkan Kesenian Jawa

Pada tahun 1984 Pdt. Andreas Parwadi mengundurkan diri sebagai Gembala Jemaat GKMI Lamper Mijen. Maka tentu ada beberapa hamba Tuhan yang menggantinya. Hamba Tuhan terkini yang menggantikan bapak  Pdt. Andreas Parwadi adalah Budi Santoso yang masuk mulai tahun 1996. Kehadiran Budi Santoso dapat diterima oleh jemaat GKMI Lamper Mijen. Maka pada tanggal 24 Januari 1999, Budi Santoso ditahbiskan sebagai Pendeta Muda (dahulu Guru Injil) dan diteguhkan sebagai Gembala Jemaat GKMI Lamper Mijen. Selanjutnya pada tanggal 6 Desember 2000, Pdm. Budi Santoso ditahbiskan sebagai Pendeta.

GKMI Lamper Mijen berada di tengah-tengah masyarakat suku Jawa, demikian juga dengan anggota jemaat GKMI Lamper Mijen sebagian besar dari suku Jawa. Bahkan sebagian jemaat GKMI Lamper Mijen merupakan mantan pelaku kesenian tradisional Jawa.  Maka Pdt. Budi Santoso yang berasal suku Jawa ingin mengembangkan pelayanan yang kontekstual di GKMI Lamper Mijen. Dia ingin menghadirkan kesenian tradisional Jawa, khususnya Karawitan di gereja yang dia gembalakan. Maka mulai tahun 2000, Pdt. Budi mulai melibatkan kesenian tradisional Jawa dalam ibadah umum hari Minggu. Setiap minggu kelima nyanyian yang dinyanyikan oleh jemaat secara bersama diiringi oleh gamelan. Ternyata mendapat sambutan yang positif dari sebagian jemaat. Wayang Orang Punakawan mengajarkan cerita-cerita Alkitab dan nilai-nilai Mennonite. Foto: GKMI

Sejak saat itu sampai sekarang setiap minggu kelima, musik pengiringnya adalah gamelan dan kalau ada acara-acara khusus (ulang tahun gereja, perayaan Natal, perayaan Paskah, dan lain-lainnya) disajikan kesenian tradisional Jawa, yaitu Fragmen Punakawan dengan cerita-cerita khusus yang menampilkan nilai-nilai kekeristenan, terutama nilai-nilai Mennonite.

Kehadiran GKMI Lamper Mijen dapat diterima oleh masyarakat di sekitarnya. Visinya: “Menjadi Gereja yang Bertumbuh, Sehat, dan Kuat.” Kebaktian Umum hari Minggu diadakan pada hari Minggu mulai pukul 07.00. Saat ini jumlah yang hadir dalam Kebaktian Umum hari Minggu sekitar 115 orang.

Gedung GKMI Lamper Mijen yang baru mulai dibangun pada bulan Oktober 2006 dengan arsitektur Jawa dan ditahbiskan pada tanggal 11 April 2007.      

GKMI Lamper Mijen menjadi gereja anggota Sinode GKMI yang ke-16, sedangkan jumlah gereja anggota Sinode GKMI saat ini ada 63 gereja. Saat ini GKMI Lamper Mijen sedang merintis penanaman gereja baru di daerah Ungaran, jaraknya sekitar 18 kilometer dari Semarang.

—ditulis oleh Paul Gunawan, disunting oleh Mark Ryan